Nama Ilmiah : Morinda citrifolita
Nama umum
Noni, great morinda, Indian mulberry, cheese fruit, Nonaakai
(India), Mengkudu, beach mulberry, Tahitian Noni
Asal dan penyebaran geografis
M. citrifolia berasal
dari Asia Tenggara, namun dijumpai secara luas disepanjang kepulauan Pasifik
India, Polinesia Perancis (Tahiti), Hawaii, Australia, Afrika dan daerah-daerah
Karibia (termasuk Costa Rica, Puerto Rico dan Republuk Dominika).
Pertumbuhan dan habitat
M. citrifolia umumnya ditemukan pada berbagai habitat
tumbuhan, termasuk di hutan-hutan yang teduh, tanah berpasir, daerah vulkanis
dan kawasan garis pantai yang berbatu-batu. Pohon Noni, yang dapat tumbuh
hingga mencapai ketinggian kurang lebih 30 kaki (kurang lebih 9 meter), mencapai
kedewasaan dalam waktu 18 bulan dan dapat menghasilkan buah rata-rata sebanyak
18 lbs (atau kira-kira 8-9 kg) per bulan. Pohon Noni sangat kuat dan tahan
kekeringan.
Pohon Noni berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Buah pohon
Noni dipandang sebagai buah jamak dengan aroma yang khas dan tajam saat masak. Buahnya
tampak berbenjol-benjol dan bersekat-sekat dengan ukuran panjang rata-rata
beberapa inchi saat ranum, dengan warna yang berubah dari hijau menjadi kuning
hingga berwana putih saat masak.
Sejarah dan penggunaan tradisional
Tumbuhan Noni dipercaya berasal dari Asia Tenggara, dan
kemudian tersebar ke timur ke Tahiti, Hawaii dan kepulauan Pasifik lainnya
sejak kira-kira 1500 tahun yang lalu. Hal ini nampak bahwa pada beberapa
kebudayaan Asia dari kepulauan Pasifik. Noni dikonsumsi sebagai bahan makanan,
baik dalam bentuk mentah maupun olahan, dan yang lainnya memilih Noni untuk
dikonsumsi hanya pada masa kelaparan atau masa-masa sulit lainnya, berhubungan
dengan rasa dan baunya yang kurang sedap (pada beberapa budaya lokal Noni
disebut sebagai “buah bagi yang kelaparan”).
Bukti yang cukup menunjukkan bahwa nenek moyang penduduk
Polinesia (dan keturunannya) menggunakan Noni untuk makanan, pewarna pakaian
dan yang terpenting adalah untuk keperluan pengobatan. Pada salah satu catatan
kuno yang ditemukan tercantum bahwa “buah-buahan berwana hijau itu dimakan oleh
penduduk asli dalam masakan mereka”. Pada beberapa daerah di India, tumbuhan
ini memperoleh popularitas tertentu bahwa buah ini ditanam dan diolah dan
dipergunakan untuk berbagai keperluan. Hal ini termasuk sebagai bahan yang
dapat meningkatkan kesehatan, atau bermanfaat medis, yaitu manfaat yang
ditawarkan oleh pohon dan buah dari tanaman ini. Penduduk asli India dilaporkan
menggunakan Noni karena manfaat pengobatannya. Hampir seluruh bagian tanaman
ini dilaporkan memiliki manfaat medis. Akar Noni dapat dimanfaatkan sebagai obat
pencahar dan penurun panas, juga dioleskan untuk mengurangi rasa nyeri akibat
penyakit asam urat. Daun pohon ini dapat dipergunakan sebagai obat penambah
stamina dan penurun panas, juga dipergunakan dalam mengobati luka dan
koreng, sementara air sari dari daunnya dapat dioleskan untuk pengobatan asam
urat. Buah Noni dipergunakan untuk mengatasi keluhan kerongkongan, penyakit
disentri, keputihan dan sapraemia. Penduduk kepulauan Fiji tampaknya
mengkonsumsi buah Noni baik dalam bentuk buah segar maupun olahan, penduduk
pulau Niue mengkonsumsinya secara teratur, sementara penduduk asli Burma
menggunakan buah Noni yang masih hijau dalam masakan kari mereka dan buah
matang untuk dikonsumsi langsung.
Di Nigeria, sekarang ini Noni digunakan untuk mengobati
demam, penyakit kuning, disentri dan malaria. Catatan sejarah yang lain
melaporkan bahwa buah yang matang dapat digunakan untuk “melancarkan menstruasi
dan direkomendasikan oleh Rumpf untuk pengobatan nyeri berkemih, sementara
buahnya untuk mengobati penyakit kencing manis (diabetes). Buah Noni
kadang-kadang juga digunakan untuk masalah-masalah penyakit dalam seperti
masalah pembengkakan limpa, penyakit hati, beri-beri, masalah pendarahan dan
batuk, serta dapat juga dignakan sebagai pencahar ringan”.